HUKUM MENYENTUH WANITA, APAKAH MEMBATALKAN WUDU' ???
Dari hadis ini :
عن عائشة أن النبي صلى الله عليه وسلم قبل بعض نسائه ثم خرج إلى الصلاة ولم يتوضأ. اخرحه أحمد وضعفه البخاري.
Dari A'isyah bahwa sesungguhnya Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam mencium sebagian istrinya lalu keluar melakukan sholat dan tidak berwudhu'.
Dikeluarkan oleh Ahmad dan didhoifkan olehAl Bukhary.
Pemahaman hadis :
1. Menyentuh wanita dan menciumnya tidak membatalkan wudhu' menurut madzhab Abu Hanifah. Menurut madzhab Syafi'i menyentuh wanita dengan tanpa perantara bagi selain mahram membatalkan wudhu'. Menurut madzhab Ahmad dan Malik menyentuh wanita dengan syahwat membatalkan wudhu'.
2. Mencium termasuk menyentuh, membatalkan wudhu' dengan syahwat menurut Imam Ahmad dan Malik dan menurut Hanafiyah tidak membatalkan wudhu' sedang menurut Syafi'iyyah membatalkan wudhu' apabila tanpa perantara.
Batalnya wudhu' karena menyentuh wanita. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); ...” (QS. Al Ma-idah: 6).
Mereka menafsirkan kalimat “lamastumun nisaa’” dengan menyentuh perempuan. Landasannya adalah perkataan Ibnu Mas’ud ,
اللَّمْسُ، مَا دُوْنَ الجِمَاعِ.
“Al lams (lamastum) bermakna selain jima’”. Perkataan yang serupa juga dikatakan oleh Ibnu ‘Umar. Jadi, menurut keduanya lamastumun nisaa’ bermakna selain berhubungan badan seperti menyentuh.
Akan tetapi, tafsiran dua ulama sahabat ini bertentangan dengan perkataan sahabat yaitu Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma-. Beliau mengatakan,
إن”المس” و”اللمس”، و”المباشرة”، الجماع، ولكن الله يكني ما شاء بما شاء
“Namanya al mass, al lams dan al mubasyaroih bermakna jima’. Akan tetapi Allah menyebutkan sesuai dengan yang ia suka.”
Dan dalil hadis ‘Aisyah, ia berkata,
كُنْتُ أَنَامُ بَيْنَ يَدَىْ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَرِجْلاَىَ فِى قِبْلَتِهِ ، فَإِذَا سَجَدَ غَمَزَنِى ، فَقَبَضْتُ رِجْلَىَّ ، فَإِذَا قَامَ بَسَطْتُهُمَا . قَالَتْ وَالْبُيُوتُ يَوْمَئِذٍ لَيْسَ فِيهَا مَصَابِيحُ
“Aku pernah tidur di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kedua kakiku di arah kiblat beliau. Ketika ia hendak sujud, ia meraba kakiku. Lalu aku memegang kaki tadi. Jika bediri, beliau membentangkan kakiku lagi.” ‘Aisyah mengatakan, “Rumah Nabi ketika itu tidak ada penerangan.”
Diberlakukan qaidah :
إذا ظرأ الحتمال سقط الإستدلال
Ketika terjadi kemungkinan maka gugurlah istidlal.
Orang Arab terbiasa menggunakan penutup kaki, jadi gugurlah penggunaan dalil hadis tsb.
Sedang bagi yang meyakini bahwa menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu' menggunakan dalil ini.
Wallahu a'lam
No comments:
Post a Comment