Thursday, January 12, 2017

HATI - HATI MAKANAN HARAM

HATI - HATI DENGAN MAKANAN HARAM

"Sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram kedalam perutnya, maka tidak diterima amalannya selama 40 hari .."
(HR. At - Thabrani)

Dengan tegas Allah memperingati kita untuk tidak memakan makanan yang haram.
Dan jika kita memakannya, maka tidak diterima amalan kita selama 40 hari. Bayangkan, 1 waktu shalat saja kita tinggalkan itu sudah mendapat siksa bertahun-tahun, gimana kalau 40 hari tidak beribadah?
Berapa kali shalat yang ditinggalkan?
Berapa kebaikan yang harusnya bisa kita kerjakan?
Berapa lama kita harus menanggung siksa di akhirat nanti.

Padahal makannya cuma sekali, Secuilpun. Tapi sama saja, Intinya sudah masuk makanan itu kedalam perut kita.
Karena jika makanan haram mengalir dalam darah kita, dampaknya itu bisa jadi faktor kita untuk malas taat kepada Allah.  Karena apa yang kita makan itu tidak diridhai olehNyA

Mari Kita mulai sekarang perhatikan makanan kita, yang halal itu pasti sehat dan lebih baik buat tubuh, pastinya membuat kita semangat terus untuk beribadah.

اللهم صلى على سيدنا محمد و على اله و صحبه و سلم

Tuesday, January 10, 2017

SUDAHKAH KITA BERILMU

SUDAHKAH KITA BERILMU

Banyak orang yang terlihat berilmu, tapi hakikatnya  tidak tahu....

Banyak orang yang terlihat fasih berbicara agama, tapi kita tidak tahu jati dirinya......

Banyak orang yang piawai posting tema agama, tapi kita tidak tahu amalan hatinya.....

Banyak orang yang pandai berdiskusi masalah agama di dunia maya, tapi kita tidak tahu hakikat ilmu sesungguhnya yang ada padanya.

Kenapa???

Sebab, hakikat dan pokok ilmu adalah rasa takutnya hati kepada Allah ta’ala.

Imam Ahmad bin Hambal _rahimahullah_ mengatakan:

أَصْلُ اْلعِلْمِ خَشْيَةُ اللهِ تَعَالَى.

“Pokok ilmu adalah rasa takut kepada Allah ta’ala.” ( _Hilyah Thalib al-‘Ilmi_ dalam _al-Majmu’ah al-‘Ilmiyyah,_ Bakr Abu Zaid, hal. 144 )

Seorang Tabi’in Masruq bin al-Ajda’ _rahimahullah_ berkata:

كَفَى بِالْمَرْءِ عِلْمًا أَنْ يَخْشَى اللَّهَ، وَكَفَى بِالْمَرْءِ جَهْلاً أَنْ يَعْجَبَ بِعَمَلِهِ.

“Cukup seorang disebut berilmu (a'lim) bila ia takut kepada Allah. Cukup seorang disebut bodoh bila ia merasa ujub dengan amalannya.” ( Min A’lam as-Salaf,_ Ahmad Farid, Jilid I, hal. 23 )

Lemas anggota tubuh kita bila merenungi perkataan mereka. Sebab yang akan menang dan beruntung di hadapan Allah adalah muslim yang benar-benar takut kepada Allah ta’ala bukan titel kesarjanaan yg berderet. Rasa takut yang dapat mendorong diri untuk melakukan ketaatan dan menjauhi segala larangan.

Bukan orang yang hafal beberapa juz al-Qur’an, hafal beberapa hadis Nabi _shallallahu alaihi wa sallam,_ hafal perkataan ulama, lancar berdialog permasalahan agama, terus-menerus memposting nasihat agama, tapi ternyata tidak ada rasa takut kepada Allah _subhanahu wa ta'ala_ pada dirinya. Baru sedikit beramal namun merasa sudah luar biasa.

Baru sedikit beribadah sudah merasa banyak berbuat bagi agama.

Hanya kepada Allah semata kita memohon pertolongan dan ampunan.

Orang yang benar-benar berilmu hanyalah orang yang takut kepada Allah ta’ala.

’Amir ash-Sya’bi _rahimahullah_ pernah dipanggil, “Wahai ‘Alim (orang yang berilmu).” Mendengar panggilan itu beliau berkata:

إِنَّمَا الْعَالِـمُ مَنْ يَخْشَى اللَّهَ.

“Seorang ‘Alim itu hanyalah yang takut kepada Allah.” ( _Tazkiyatun Nufus_, Ahmad Farid, hal. 116 )

Allah _subhanahu wa ta'ala_ berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ.

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama (orang-orang yang berilmu).” (QS. Fathir: 28)

Semoga Allah menjadikan kita ke dalam golongan orang-orang yang benar-benar takut kepada-Nya, baik dikala sendiri maupun di tengah manusia. _Aamiin_, Ya Rabbal 'alamiin.

WANITA KEDUA

WANITA KEDUA

Saudariku…

Saat kita berdoa kepada Allah, memohon Allah untuk mendatangkan seorang suami yang shalih.

Allah tidak menurunkan suami kita dari langit begitu saja.

Tapi..

Sebelum kita memohon kehadirannya..

Ada seorang wanita yang terlebih dulu memohon kehadirannya dalam perutnya.

Wanita itu mengandungnya dengan susah payah, dengan penuh harapan terhadap jabang bayi yang ada di dalam perutnya itu..

Tidak lain jabang bayi itu adalah suami kita.

Sebelumnya..

Ada seorang wanita yang siap menukar nyawanya dengan nyawa suami kita di tempat persalinan.

Dia menyusuinya, memberikan siang dan malamnya untuk mengurus suami kita.

Mengasuhnya dengan mengorbankan semua yang dimilikinya karena cinta yang begitu besar terhadap suami kita.

Dia telah memberikan sari pati kehidupannya untuk kedihupan suami kita

Dia menghabiskan masa mudanya untuk membesarkan suami kita.

Dan kini…

Wanita itu telah menjadi seorang wanita tua

Anak laki-laki itu telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah, yaitu suami kita

Wanita tua itu…

Tidak ada yang dia harapkan dari anaknya selain cinta

Maka..

Janganlah kita rebut cinta itu dari nya

Biarkanlah dia menempati satu tempat yang istimewa di hati suami kita

Kita bisa menempati satu tempat istimewa lain di hati suami kita

Mengalahlah dan biarkanlah suami kita mengutamakannya

Muliakanlah wanita itu…

Bantulah suami kita untuk berbakti kepadanya

Bantulah suami kita untuk menjaga pintu surganya

Dengan ini, niscaya kita akan mendapatkan dua cinta sekaligus. Cinta wanita itu dan cinta suami kita.

Dan semoga pahala yang besar Allah berikan untuk kita karenanya.

Kalau kita ikhlas, bukan cinta manusia, bahkan cinta Allah yang akan kita dapatkan

Kata orang,                                       

“Kalau engkau ingin merebut hati suami, rebutlah hati ibu nya”

Bagaimana tidak?

Bagaimana menurut kita jika seorang lelaki mempunyai istri yang memuliakan ibunya? Bukankah dia akan mencintai istrinya karena sifat ini?

Bagaimana tidak?

Bukankah betapa bahagianya seorang laki-laki ketika bisa mengumpulkan cinta dua wanita sekaligus dalam kehidupannya. Cinta ibunya dan cinta istrinya..

Dan betapa malangnya seorang laki-laki jika dua wanita yang dia cintai saling membenci. Ibunya tidak akur dengan istrinya.

Semoga Allah menjadikan kita istri yang shalihah.

KISAH SEORANG ANAK PERGI HAJI SENDIRIAN

KISAH SEORANG ANAK PERGI HAJI SENDIRIAN

Seorang tokoh sufi bernama Ibrahim bin Adham dan Fatah Al-Musili pernah bercerita,
*_˝Suatu hari aku pernah berjalan bersama rombongan kafilah melewati gurun pasir…_*
*_Tiba-tiba aku merasa harus segera menyalurkan hajat…_*
*_Akhirnya aku menjauh sejenak dari kafilah untuk menyelesaikan urusanku…_*

_Setelah itu aku melihat ada seorang anak kecil berjalan sendirian._

Aku berkata,
*_“Subhanallah… ditengah gurun pasir ini ada anak kecil berjalan sendirian…!”_*

_Aku mendekatinya dan memberi salam…_
_Dia pun menjawab salamku…_

Kemudian aku bertanya,
*_“Mau kemana engkau…?”_*

Dia menjawab,
*“Aku ingin ke rumah Tuhanku…”*

*_“Sayangku…_*
*_Engkau ini masih kecil…_*
*_Tidak ada kewajiban atau sunnah untukmu (untuk berhaji)…”,_* kataku.

Dia menjawab,
*“Wahai Syaikh… bukankah kau melihat ada seorang anak yang lebih kecil dariku telah mati…?”*

Aku tidak bisa berkata lagi,
*_“Lalu mana kendaraan dan bekalmu…?”_*

Ia menjawab,
*“Bekalku adalah takwaku…*
*Kendaraanku adalah kedua kakiku…* dan
*Tujuanku adalah Tuhanku…”*

Aku pun terheran…
Lalu aku berkata,
*_“Aku tidak melihat ada makanan sedikitpun yang kau bawa…”_*

*“Wahai Syaikh…*
*Apakah pantas jika engkau hendak memenuhi undangan seseorang ke rumahnya…*
*Lalu engkau membawa makanan sendiri dari rumah…?”,* dia balas bertanya.

Aku menjawab,
*_“Jelas tidak pantas…!”_*

*“Yang mengundangku kerumah-Nya…*
*Dia-lah yang memberi makan dan minum untukku…!”,* jawabnya.

Aku pun berkata,
*_“Bergegaslah engkau agar cepat sampai di tujuanmu…!”_*

*“Aku hanya berusaha…*
*Dia-lah yang menyampaikanku pada tujuan…*
*Bukankah engkau pernah mendengar firman Allah swt,*
*وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ*
-٦٩-
*_Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami…_*
*_Kami akan Tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami…_*
*_Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik…”_*
(Al-Ankabut 69)

_Ditengah perbincangan itu, tiba-tiba ada seorang pemuda yang amat tampan datang dengan pakaian putih yang indah._
_Dia langsung memeluk anak kecil itu dan mengucapkan salam kepadanya._

Aku segera mendekatinya dan bertanya,
*_“Demi ketampanan wajahmu…_*
*_Siapa sebenarnya anak kecil ini…?”_*

*“Kau tidak tau siapa dia…?*
*Anak kecil ini adalah Ali bin Husain bin Ali bin Abi thAlib…!”,* jawabnya.

_Aku segera meninggalkan pemuda itu dan mendekati si anak kecil,_
*_“Aku memohon demi ayah-ayahmu…_*
*_Siapa pemuda tampan ini…?”_*

*“Tidak tahukah engkau…*
*Dia adalah saudaraku khidir as…*
*Dia mendatangi kami setiap hari dan mengucapkan salam untuk kami…”,* jawabnya.

*_“Aku memohon demi ayah-ayahmu…_*
*_Beritahukan kepadaku bagaimana engkau melalui padang pasir tanpa membawa bekal…?”,_* tanyaku.

*“Aku membawa 4 bekal…”*

*_“Apakah itu…?”_*
Aku kembali bertanya.

~
*“Aku melihat dunia dan seisinya adalah kerajaan Allah…*
~
*Dan aku melihat seluruh makhluk adalah hamba-hamba Allah…*
~
*Seluruh sebab dan rezeki ada ditangan Allah…*
~
*Dan aku melihat ketentuan Allah pasti terjadi di atas bumi-Nya…”*

Kemudian aku berkata,
*“Sebaik-baik bekal adalah bekalmu…*
*Dan dengan bekal itu engkau akan melalui gurun-gurun akhirat…*
*Apalagi hanya gurun-gurun dunia ini…”*
*وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى*
-١٩٧-
*_Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa…_*”
(Al-Baqarah 197)

اللَّهُـــمَّے صَلّےِ عَلےَ سَـــيِّدِنَا وَحَبِـــيبِنَا وَشَفِـــيعِنَا وَقُرَّةِ اَعيُـــنِنَا وَمَولَانَا مُحَـــمَّد وَعَلےَ آلـِہِ وَصَحـــبِـه

😭🌺😭🌺😭🌺😭

Sunday, January 8, 2017

MENGAPA MALAS BERIBADAH

MENGAPA MALAS BERIBADAH

Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallaahu wajhah berkata:

ﺟﺰﺍﺀ ﺍﻟﻤﻌﺼﻴﺔ ﺍﻟﻮﻫﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻭﺍﻟﻀﻴﻖ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﻴﺸﺔ

Balasan kemaksiatan adalah lemah dalam beribadah dan sempit dalam rejeki.

Riwayat al-Munawi dalam al-Kawakib al-Durriyyah fi Tarajim al-Sadah al-Shufiyyah juz 1/1 hlm 106.

Ternyata perbuatan maksiat melemahkan seseorang untuk beribadah dan mempersempit jalannya rejeki dan perekonomian. Semoga kita selalu dijauhkan dari kemaksiatan, amin.

Monday, January 2, 2017

TERKENAL KARENA MENCINTAI KELUARGA RASULULLAH

IMAM JUNAID AL-BAGHDADI, MASYHUR SEBAB KECINTAANNYA PADA AHLUL BAYT RASULULLAH SAW

Di waktu mudanya Imam Junaid Al-Baghdadi adalah seorang yang memiliki badan kekar dan menunjang hidupnya dengan cara bermata pencaharian sebagai pegulat profesional. Dan seperti biasa, setiap tahunnya diadakan kontes gulat oleh Penguasa Baghdad dan mereka mengumumkan :

"Hari ini, Junaid Baghdadi (juara bertahan) akan menunjukkan keahliannya sebagai pegulat, apakah ada orang yang berani menantangnya?"

Lalu seorang pria tua, berdiri dengan leher gemetar dan berkata :

"Aku akan ikut masuk kontes ini dan menantang dia."

Siapapun orang yang menyaksikan adegan ini tidak bisa menahan diri, mereka meledak tertawa dan bertepuk tangan.

Raja pun sudah terikat oleh aturan hukum. Dia tidak bisa menghentikan seseorang yang dari kehendak bebasnya sendiri ingin memasuki pertarungan.

Orang tua itu diberi izin untuk memasuki ring, ia berusia sekitar 65 tahun.

Ketika sang juara bertahan Junaid Al-Baghdadi memasuki ring, Ia tercengang sebagaimana Raja dan semua penonton yang hadir. Semua memiliki pikiran yang sama, "Bagaimana mungkin orang tua ini akan mampu melawan dan menang?"

Orang tua itu berjabat tangan dengan Imam Junaid dan dengan suara lirih berkata :

"Dekatkanlah aku kepada telingamu (Dengarkan kata-kataku)," Ia kemudian berbisik :

"Aku tahu bahwa tidak mungkin bagiku untuk memenangkan pertarungan ini. Aku adalah seorang Sayyid, keturunan Nabi Muhammad, Anak-anakku sedang kelaparan di rumah. Apakah engkau siap untuk mengorbankan namamu, kehormatan dan posisimu untuk cinta pada Nabi ALLAH dan kehilangan pertarungan ini karenaku? Jika engkau melakukan hal ini, aku akan dapat mengumpulkan uang hadiahnya dan dengan demikian memiliki sarana untuk memberi makan anak-anakku dan aku sendiri dapat memenuhi kebutuhan selama satu tahun penuh. Aku akan dapat menyelesaikan pembayaran semua hutangku dan di atas semuanya, Rasulullah  akan senang/ridha dengan engkau.
Apakah engkau, wahai Junaid, tidak bersedia mengorbankan kehormatanmu demi anak-anak cucu Rasulullah?"

Junaid al-Baghdadi berpikir sejenak dan berkata :

"Tayyib, hari ini aku memiliki kesempatan yang sangat baik."

Akhirnya dengan tampilan yang bersemangat Junaid Al-Baghdadi menunjukkan beberapa manuver, menunjukkan kemahiran bergulatnya sehingga Raja tidak menduga ada konspirasi apapun.

Junaid dengan kemahiran yang luar biasa, tak mempergunakan kekuatan penuhnya mampu membuat dirinya sendiri terjatuh, ditindihi orang tua itu.

Masya ALLAH.. Tabarakallah!

Dan dengan kerendahan hatinya, Junaid pun memproklamirkan akan kekalahannya. Sehingga ia memberikan hak kepada orang tua itu sebagai pemenang dan meraih hadiahnya.

Kemudian tiba-tiba saja di malam harinya, Junaid al-Baghdadi bermimpi bertemu Nabi Muhammad  yang mengatakan :

"Duhai Junaid, engkau telah mengorbankan kehormatanmu, ketenaranmu yang telah diakui di seantero negeri. Nama dan posisi yang digembar-gemborkan di seluruh penjuru Baghdad bertukar demi ekspresi cintamu untuk anak-anakku yang kelaparan. Pada hari ini dan abadi untuk seterusnya, namamu akan tercatat dalam daftar Auliya' (wali ALLAH)."

Setelah itu, pegulat besar ini berhasil belajar untuk mengalahkan nafsunya dan menjadi salah satu Waliyullah paling terkemuka pada masanya.

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ

Sumber :

Dinukil dari kitab "Tajalliyat al-Jadzb" karya Asy-Syaikh Muhammad Hakim Akhtar.